created by : Lida Maulida ( @DaaLidaa )
Matanya terus memperhatikan kearah pintu masuk,
tapi orang yang dia tunggu belum kunjung datang.
"datang.. Atau tidak datang.." lirih
Sapto dalam hati.
Sapto pun kembali bergabung dengan
teman-temannya. Seperti dapat membaca fikiran sapto , annas sahabat dekat sapto
menepukan tangannya diatas pundak sapto.
Ramai riuh dalam acara buka bersama dirumah bu
hasni itu, tiba-tiba dikejutkn suara mobil yang berhenti didepan rumah. Dengan
cepat sapto mendekat kearah jendela. "mungkinkah..."
Apa yang selama ini dikhwatirkan sapto ternyata
ini alasannya. Hatinya tiba-tiba merasa sakit yang amat sangat, ada rasa kecewa
dan ingin marah.
"ibu, maaf gina datang terlambat"
senyumnya terkembang sambil mencium tangan bu hasni. Bu hasni mempersilahkan
gina untuk bergabung dengan yang lainnya.
Sapto yang terduduk diam tanpa berbicara
sedikitpun sejak kedatangan gina.
"siapa.. siapa orang itu" otaknya
terus berfikir.
Sapto berharap ada seseorang yang memberitahukan
soal siapa orang yang mengantar gina. Bahkan annas pun diam..
Matanya terus memandangi Gina. Lama. Sampai
akhirnya Sapto menghampirinya.
"Gin, bisa kita bicara sebentar
diluar?"
Tanpa menjawab Gina langsung berjalan menuju
teras rumah itu.
Cukup lama mereka berdua diam tidak berbicara.
Mata Sapto yang tak lepas memperhatikan sosok Gina, banyaknya guratan
pertanyaan tergambarkan diwajahnya.
"lama gak jumpa..." Gina memulai
pembicaraan.
Sapto tidak tertarik menanggapi ucapan Gina yang
terdengar klasik itu.
"kenapa, km gak pernah jawab pesan yg aku
kirim?"
Inilah Sapto yang Gina kenal, berbicara langsung
pada inti permasalahan tanpa mengenal basa-basi.Matanya yg terus memperhatikan
gerak-gerik Gina. Menunggu, kalimat seperti apa yang akan Gina keluarkan
sebagai pembelaan.
Gina hanya sanggup mengalihkan pandangannya
ketepi jalan yang sepi itu. Tangannya terkepal seolah mencari kekuatan untuk
dapat berbicara.
"gak ada keharusan, buat aku menjawab pesan
kamu kn!"
"dan,, kalo cm ini yg mw km tanyakn, lebih
baik kita gabung lg sm tmen2 di dlm" ucap gina dingin...
saat Gina akan pergi, Sapto menarik tangan
Gina.
"siapa... Siapa orang yg nganter km
td?" kalimat Sapto ini mengejutkan Gina, bukan hanya itu, tangan Sapto yg
dulu terasa hangat tiap kali menyentuhnya, kali ini berbeda. Dingin, sangat
dingin. Gina yang ingin terus menghindar nyatanya tidak bisa. Gina diam untuk
beberapa saat, bibirnya gemetar tak sanggup untuk menjelaskan, matanya terus
mencari sesuatu yang tidak ada.
"jawab gin..." lirih Sapto
"Tunangan.. Dia tunanganku"
Genggaman tanggan Sapto pun mengendur, sampai
akhirnya terlepas. Tergambar kekecewaan yang sangat diwajah Sapto. Sapto
kemudian berjalan menghampiri teman-temannya didalam dan meninggalkan Gina
tanpa berbicara sepatah kata apapun setelah mendengar apa yang Gina ucapkan.
Melihat punggung Sapto yang semakin hilang dari
pandangannya,air mata Gina hampir terjatuh, tapi dia berhasil mengatasinya.
Acara pada malam itu berjalan lancar. Semua
senang, kecuali Sapto tentunya.
Saat semua berpamitan pulang, bu hasni meminta
Sapto dan beberapa orang yang lain untuk tetap tinggal.
Annas, Bagus dan Dian tetap tinggal bersama
Sapto malam itu.
"lebih baik nangis di sini dari pada
dirumah" ucap bu hasni lembut dengan gurauannya yg khas.
Sapto hanya bisa menekuk kepalanya dalam-dalam.
Tidak merespon apa-apa yang dikatakan teman-temannya termasuk bu hasni.
"setiap awal pasti ada akhirnya, begitupun
sebuah hubungan pasti akan berakhr juga" lirih bu hasni, berusaha
menasehati anak didiknya sewaktu di SMA itu yang kini sudah menjadi Mahasiswa
Fisika semester 5 di UPI
Sapto hanya mengangguk, dan akhirnya tersenyum
tipis walaupun terpaksa.
Annas, Bagus, Dian bahkan sudah tau prihal
pertunangan Gina, tapi tak tepat rasanya jika Sapto tau mengenai hal ini dari
mereka.
Bip...
Bip...Bip...
Bunyi pesan dari handphone sapto terus
berdatangan
From: MeLLon
-totoooo-
From: MeLLon
-tomato woy-
From: MeLLon
-sial, gak dibales juga. Dasar manusia tomat!-
Sapto pun menahan tawanya setelah membaca pesan
terakhir dari teman yang dinamainya "MeLLon" itu.
Kembali Sapto merebahkan tubuhnya diatas tempat
tidur. Menatap kosong langit-langit kamarnya. Sesekali dia melihat laci meja
yang berada tepat disamping tempat tidur.
Dibukanya laci itu, dan mengambil lipatan kertas
lusuh yang ada didalamnya. Dibacanya dengan seksama.
Fikirannya pun seolah memflasback kejadian
ditanggal yang tercatat pada surat itu.
28 september 2008
Siang itu senyum Gina terus tergambar diwajahnya.
Walau Matanya terus mengawasi pintu kelas XI IPA 3.
"Bu Attin, jus stroberi sama jus jeruknya 1
ia" sahut Gina kepada ibu penjual dikantin itu. Yang ditunggupun akhirnya
datang. Senyuman yang terus tergambar diwajah Gina membuat sedikit kebingungan
Sapto. Tanpa
banyak bicara Sapto langsung meminum jus
stroberi yang sudah Gina pesan.
"waah, seger banget jus stroberiiinya. Buat
otak ku jd adem lagi... Makasi ia sayang kuu... Hehe" Tangan Sapto mulai
bergentayangan jail dikepala Gina. Gina hanya tersenyum, betapa dia menyukai
saat tangan hangat Sapto menyentuh kepalanya.
"ini baca"
"apaan ini" Sapto kebingungan.
"hmmm... kamu pasti lupa..." Lirih
Gina kecewa, wajah Gina ditekuk, matanya mulai mendung sambil memperhatikan jus
yang sedang dia aduk-aduk dengan sedotan. Mengetahui itu, Sapto langsung
cepat-cepat membuka Lipatan kertas yang Gina berikan.
*Happy Anniversary 1st*
Tangannya meremas kertas lusuh itu, melemparnya
jauh kesudut kamar. Kedua tangannya menutupi wajah, hampir saja air mata itu
keluar, dengan cepat Sapto menyeka dengan ke2 tangannya. Tiba-tiba hari ini
waktu berjalan begitu lambat, dan sakit yang dirasakan Sapto semakin kuat.
Gina, adalah teman semasa SMA sekaligus mantan
terlama yang pernah Sapto pacari. 3 tahun. Waktu yang cukup lama untuk mengenal
seorang Gina bagi Sapto. Walau disemasa pacaran dulu Sapto dan Gina lebih
sering marahan karna hal-hal kecil ketimbang baikannya. Tapi tetap saja, Gina
paling berbeda diantara yang lain.
Sapto selalu berfikir, bahwa itu adalah pembelajaran
untuk diperbaiki dikemudian hari. Tapi kenyataan pahit yang harus dihadapi saat
ini, bahwa... kesemptan untuk memperbaiki itu semua tidak ada.
Gina sudah bertunangan dengan orang lain.
"nik... NIKKIIIITAAA..." teriak ibu
didapur.
"iaa....." suara langkah niki menuruni
tangga pun bergema, betapa dia tidak menyadari berat badannya telah naik 5kg
saat bulan puasa kemarin, membut Nabila adiknya gusar, karna ke gaduhan
kakaknya.
"ITAAA, Lo gak nyadar body ia! Berisik
tau" omel Nabila adik Nikita.
Sebelum menuju dapur tempat ibu memanggil,
Nikita menghampiri adiknya.
"apa sii, Ita. Ita. Nama bagus-bagus
Nikita, dipanggil Ita" Nikita mengambil makanan yang ada ditangan adiknya
itu, sambil kemudian menjulurkan lidah dan berjalan menuju dapur.
Pasca Hari raya idulfitri beberapa waktu lalu,
Ibu dan Nikita tampak sibuk didapur. Sanak saudara silih bergantian datang
kerumah mereka.
"siapa lg si bu yang bkalan dateng?"
tanya Niki heran.
"itu, paman Wahid adik ayah yang dari
Garut"
Niki menganggukan kepalanya.
Nasi Liwet, asin dan Lalapan sambal siap
disajikan dimeja makan.
Sesekali Nikita memeriksa Handphone nya.
"iikh..." dengan kesal kembali niki
mengantongi handphone dalam saku celananya.
Tangan Bila, sapa akrab Nabila adik Niki.
Dengan Liar mengutak-atik Laptop milik kakaknya itu. Dibukanya satu persatu
folder yang ada didalamnya. Sampai akhirnya berhenti di folder "Aku dan
Dia" dilihatnya foto-foto itu satu persatu.
"ka... Kabar Mas Bagus gimana, dah Lama gue
gak denger lo ngomongin soal mas Bagus ke ibu?" tanya Bila polos.
Niki yang ditanya sibuk membulak-balik Majalah
Korea kesukaannya. Tanda malas menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan
Bagus.
"Lo putus ia ka?" tebak Bila so tau.
Niki beranjak dari tempat tidurnya dan memukul
adiknya itu dengan majalah yang ada ditangannya.
"anak kecil jangan so tau deh ! " ujar
Niki sambil meninggalkan kamarnya.
"yee..." ketus Bila.
Niki, duduk termenung di teras depan rumahnya.
Matanya mengamati kearah pohon magga milik ibunya. Mencari sesuatu yang
sebenarnya tidak ada sama sekali. Kembali dia melihat handphone nya.
"hmmm..."
Dengan kesal niki menjauhkan handphone darinya.
"1 minggu lagi" lirih niki yang
kemudian menekukan kepalanya.
Sapto melirik kearah jam weker yang ada dimeja
belajarnya.
"baru jam8... Mending tidur Lagi deh"
Selimut yang terjatuh, akhirnya ditarik kembali
dan Sapto pun melanjutkan tidurnya.
Bip...
Bip...
Bip...
Suara tanda pesan masuk terus berdatangan di
handpone Sapto.
Niki dan ibunya baru saja berbelanja keperluan
yang akan Niki bawa ke Jogja minggu depan.
"Nik, mampir dulu ke rumah bu Tuti ia, kita
silaturahmi" sahut ibu yang berjalan menuju rumah bercat hijau itu. Tanpa
menjawab Niki mengikuti langkah ibunya.
Niki mencuri pandangan kedalam rumah itu
berharap melihat seseorang, tapi tampaknya tidak ada orang sama sekali.
Tidak Lama kemudian Niki dan Ibunya sampai
dirumah.
"km, mau dibuatkan apa nik untuk dibawa ke
Jogja" tanya ibu
Niki yang asik membereskan belanjaannya hanya
menggumam. Berfikir. Ingin dimasakan apa oleh ibu.
"nanti aja bu, masi lama kok"
Liburan semester Niki akan berakhir sebentar
Lagi. Dan dia harus kembali ke Jogja.
Nikita, adalah seorang Mahasiswi TI semester 3
di UIN Jogja.
" ka sapto banguun " terdengar suara
tiga anak kecil membangunkan Sapto, sambil terus menggerakkan tubuh Sapto ke
kanan dan ke kiri. Yang di bangunkan tak kunjung sadar juga. Sampai salah 1
dari ketiga anak kecil itu mencabut bulu kaki Sapto yang Lebat. Dan cepat-cepat
melarikan diri ke luar kamar Sapto.
"AWW..." Spontan Sapto langsung
terbangun dan mengaduh kesakitan. 2anak kecil yang melihat OM nya yang
kesakitan itu tertawa dengan lepas.
"sana..sana ah" Sapto mengusir
keponakannya itu dari kamarnya.
"wow udah jam 12" Sapto kembali
merebahkan tubuhnya. Tangannya memainkan handphone. Ada 8 pesan. Dan semua dari
"MeLLon"
From: MeLLon
-toto-
From: MeLLon
-toto hey-
From: MeLLon
-bales dong!-
From: MeLLon
-Gue dirumah Lo ni, sama nyokap-
From: MeLLon
-pasti masi tidur. Dasar kebo -,-
From: MeLLon
-Sial! Gak ngebales juga-
From: MeLLon
-Minggu Gue cabut lg ke jogja-
From: MeLLon
-DASAR MANUSIA TOMAT!-
Sapto hanya tertawa melihat pesan yg dikirim
temannya ini. Dan mengetikan sebuah pesan balasan
-ketemu ayo. Gue tunggu jam3. Di WS ia-
Tidak dlm hitungan menit, pesan pun langsung
brbalas.
From: MeLLon
-okeh :D -
Sapto, mulai berfikir memutar otaknya. Tidak
baik terus memikirkan Gina. Apalagi setelah mengetahui status Gina sekarang.
Saptopun bersiap untuk pergi bertemu "MeLLon"
Jarak WS (Waroeng Steak) dengan rumah Sapto
tidak begitu jauh. Karna Lokasinya yang dekat Saptopun berjalan kaki. Tepat
jam3 Sapto sudah ada ditempat. Duduk dikursi yang bersebelahan dengan jendela
yang langsung menghadap jalan raya. Taklama, yang ditunggupun datang.
Tangan Sapto melambai-lambai ke arah Niki yang
tampak kebingungan mencari dirinya.
"Lama!" ujar Sapto.
Melihat Niki yang tampak kecapekan itu Sapto
tersenyum dan berkata "Lo jalan cepet ia kesini" Sapto
terkekeh-kekeh.
Niki yang sibuk memposisikan duduknya agar PW
(Posisi Wenak) memasang muka jutek.
"Sial lo. Gue Buru2 tau kesini, gue lg
bantuin ibu pas lo sms" sahut Niki cepat.
2orang yg sudah lama tdk brtemu saling mlepas
rindu. Bukan 2teman. Tapi 2sahabat.
Niki terus memperhatikan Sapto. Posisi duduk yang
saling berhadapan itu memudahkan Niki untuk melihat wajah Sapto. Sapto yang
diperhatikan terus bercerita semua hal tentangnya. Termasuk soal Gina. Niki
yang setia mendengarkan hanya mengangguk-angguk.
"Gue, kaget tau pas Gina dianter cwo itu.
Hmmm" curhat Sapto
"yakin, itu tunangannya? Siapa tau dia
boong" Balas Niki polos, sambil melahap potongan steak yang dia pesan.
"Gina itu gak pernah boong"
Melihat ekspresi wajah Sapto seperti itu, Niki
tau Sapto sangat kecewa dan sakit hati. Walaupun Sapto memaksakan tertawa.
Tetap saja. Diwajahnya tertulis "LUKA"
Kemudian Niki mengalihkan pandangannya kesudut
jalan.
Tangan Sapto mulai jail. Pipi Niki yang lebih
terlihat seperti bakpau itu. Sapto colek-colek.
"malah ngelamun" ejek Sapto. Tawa
Sapto pun membeludak melihat ekspresi sahabatnya itu.
"ahahaha. Dah kaya mayat idup aja lo
nik"
Perasaan Sapto sedikit Lebih baik berkat Niki.
Dipandangnya lekat-lekat sahabatnya yang sedang asik makan itu. Dan Sapto
tersenyum.
Bagi Sapto, Niki itu anak bodoh yang selalu
menjelma menjadi orang dewasa. Sikap acuhnya selalu berbanding terbalik dengan
kepeduliannya. Selalu bilang "NGGAK" Padahal "IYA"
Hal yang paling Sapto sukai dari Niki, yaitu
ketika Niki terus menerus tiada hentinya mengirimkan pesan kepadanya.
Pernah suatu hari Niki mengirimkan 30pesan yang
isinya sama semua. Hanya waktunya yang berbeda.
-tototomato-
Begitulah isi pesan Niki.
Mengingat semua tingkah konyol dan manja Niki,
Sapto tertawa sendiri dikamarnya.
Mendengar Niki akan kembali ke Jogja Minggu
nanti, Sapto menggumam sendiri.
"kenapa si harus Jogja"
Sejak awal Sapto tau, Niki lolos SNAMPTN ke UIN
Jogja. Sapto tidak suka. Karna tau mereka akan jarang untuk bertemu. Mengingat
Sapto pun memilih UPI sebagai tempt ia kuliah karna dia tau kondisi badannya
tidak terlalu mendukung untuk dia kuliah di luar Bandung.
Sapto selalu ingat. Niki yg slalu menginginkan
gelas S.Si terpampang di nama belakangnya. Tapi Saptolah yang akan menyandang
gelar itu. Bukan Niki.
Ingatan Sapto langsung tertuju pada ucapan Niki
saat itu
"ih ih sebel ih, yang pengen jadi
Sarjana Sains kan gue, kenapa jadi lo si to"
"gue juga heran, malah, gue yang pengen
dapet gelar S.T malah Lo ia" jawab Sapto sambil menggaruk-garuk kepalanya
kebingungan. "yaudahlah,kita kan masi tetep bisa berkolaborasi. Hehe"
hibur Sapto.
Sapto terus memflashback ingatan tentang
sahabatnya itu. Pertama bertemu Niki yang menggunakan celana pendek dan kaos
oblong. Sampai akhirnya bermetamorfosis. Niki yang sekarang mengenakan hijab
menjelma menjadi wanita yang cantik.
Sempat hati Sapto tertarik karna melihat
perubahan itu. Tapi tetap saja. Niki adalah Niki si MeLLon.
Buat Sapto saat ini, Niki tetap anak bodoh yang
menjelma menjadi dewasa.
Gina memperhatikan Shipa yang sedang asik
chatting dengan teman-teman dijejaring sosial dikomputer kesayangannya.
Kemudian tiba-tiba memicingkan matanya ke arah
friends list chatt Shipa.
"Sapto..." ucapnya dalam hati. Seperti
dapat membaca apa yang difikirkan Gina. Shipa mencoba membuka halaman tentang
Sapto.
"Jangan dibuka!" sahut Gina cepat
sambil menutup muka dengan ke2 tangannya. Shipa spontan mengcancel halaman yang
hampir terbuka tersebut.
"yakin, km gak mau Liat gin" tanya
Shipa lembut.
"nggak perlu pa, baiknya aku gak perlu tau
lg soal dia, aku harus kuat, bagaimanapun aku harus ngelupain dia, aku harus
menghargai keberadaan Indra yang sekarang bersama ku"
Shipa menepuk pundak temannya itu, mencoba
memberikan semangat. Bahwa keputusan Gina itu memang baik untuk dirinya.
"aku salut sama kamu Gin"
Raut wajah Gina yang semula tenggelam dalam
kesedihan melukiskan sedikit senyuman berkat Shipa.
"Nik, kapan kau ke jogja kah?" suara
khas Delia disebrang sana dengan logat Makassarnya.
"aku minggu del, kau kapan kah" tanya
niki, diapitnya telepone diantara pipi dan bahu sambil terus membantu ibu
mengupas buah mangga. Untuk dibuat manisan dan akan Niki bawa sebagai oleh-oleh
untuk teman-temannya disana.
"ya, mungkin senin. Aku ambil keberangkatan
tiket hari senin nik"
"oh, ya sudah. Jangan lupa bawa oleh-oleh
makassar ia" pinta niki sambil tertawa.
"siap"
Pembicaraanpun berakhir.
Niki selalu bercerita kepada Ibu. Bahwa dia
beruntung kuliah di Jogja, karna teman-teman yang dia dapat berasal hampir dari
luar pulau Jawa.
Seperti Delia dari Makassar, Zety dari Manokwari
dan Cut Wulan dari Aceh. Setiap akhir Liburan mereka semua selalu menukar
makanan khas dari daerah masing-masing.
Saat Niki asik bercerita. Tiba-tiba handphone
nya berbunyi. Ada 1 pesan.
From: Mas Bagus
-De, kapan km ke Jogja? Mau mas jemput?-
Niki hanya menghela nafas panjang setelah
membacanya.
-TBC-
Tunggu kisah
selanjutnya yya ^^
penulisnya belum
dapet inspirasi lagi.. hehehe..