created by : Lida Maulida ( @DaaLidaa )
Matanya terus memperhatikan kearah pintu masuk,
tapi orang yang dia tunggu belum kunjung datang.
"datang.. Atau tidak datang.." lirih Sapto dalam hati.
Sapto pun kembali bergabung dengan teman-temannya. Seperti dapat membaca fikiran sapto , annas sahabat dekat sapto menepukan tangannya diatas pundak sapto.
"datang.. Atau tidak datang.." lirih Sapto dalam hati.
Sapto pun kembali bergabung dengan teman-temannya. Seperti dapat membaca fikiran sapto , annas sahabat dekat sapto menepukan tangannya diatas pundak sapto.
Ramai riuh dalam acara buka bersama dirumah bu
hasni itu, tiba-tiba dikejutkn suara mobil yang berhenti didepan rumah. Dengan
cepat sapto mendekat kearah jendela. "mungkinkah..."
Apa yang selama ini dikhwatirkan sapto ternyata ini alasannya. Hatinya tiba-tiba merasa sakit yang amat sangat, ada rasa kecewa dan ingin marah.
"ibu, maaf gina datang terlambat" senyumnya terkembang sambil mencium tangan bu hasni. Bu hasni mempersilahkan gina untuk bergabung dengan yang lainnya.
Sapto yang terduduk diam tanpa berbicara sedikitpun sejak kedatangan gina.
"siapa.. siapa orang itu" otaknya terus berfikir.
Sapto berharap ada seseorang yang memberitahukan soal siapa orang yang mengantar gina. Bahkan annas pun diam..
Apa yang selama ini dikhwatirkan sapto ternyata ini alasannya. Hatinya tiba-tiba merasa sakit yang amat sangat, ada rasa kecewa dan ingin marah.
"ibu, maaf gina datang terlambat" senyumnya terkembang sambil mencium tangan bu hasni. Bu hasni mempersilahkan gina untuk bergabung dengan yang lainnya.
Sapto yang terduduk diam tanpa berbicara sedikitpun sejak kedatangan gina.
"siapa.. siapa orang itu" otaknya terus berfikir.
Sapto berharap ada seseorang yang memberitahukan soal siapa orang yang mengantar gina. Bahkan annas pun diam..
Matanya terus memandangi Gina. Lama. Sampai
akhirnya Sapto menghampirinya.
"Gin, bisa kita bicara sebentar diluar?"
Tanpa menjawab Gina langsung berjalan menuju teras rumah itu.
Cukup lama mereka berdua diam tidak berbicara. Mata Sapto yang tak lepas memperhatikan sosok Gina, banyaknya guratan pertanyaan tergambarkan diwajahnya.
"lama gak jumpa..." Gina memulai pembicaraan.
Sapto tidak tertarik menanggapi ucapan Gina yang terdengar klasik itu.
"kenapa, km gak pernah jawab pesan yg aku kirim?"
Inilah Sapto yang Gina kenal, berbicara langsung pada inti permasalahan tanpa mengenal basa-basi.Matanya yg terus memperhatikan gerak-gerik Gina. Menunggu, kalimat seperti apa yang akan Gina keluarkan sebagai pembelaan.
Gina hanya sanggup mengalihkan pandangannya ketepi jalan yang sepi itu. Tangannya terkepal seolah mencari kekuatan untuk dapat berbicara.
"gak ada keharusan, buat aku menjawab pesan kamu kn!"
"dan,, kalo cm ini yg mw km tanyakn, lebih baik kita gabung lg sm tmen2 di dlm" ucap gina dingin...
"Gin, bisa kita bicara sebentar diluar?"
Tanpa menjawab Gina langsung berjalan menuju teras rumah itu.
Cukup lama mereka berdua diam tidak berbicara. Mata Sapto yang tak lepas memperhatikan sosok Gina, banyaknya guratan pertanyaan tergambarkan diwajahnya.
"lama gak jumpa..." Gina memulai pembicaraan.
Sapto tidak tertarik menanggapi ucapan Gina yang terdengar klasik itu.
"kenapa, km gak pernah jawab pesan yg aku kirim?"
Inilah Sapto yang Gina kenal, berbicara langsung pada inti permasalahan tanpa mengenal basa-basi.Matanya yg terus memperhatikan gerak-gerik Gina. Menunggu, kalimat seperti apa yang akan Gina keluarkan sebagai pembelaan.
Gina hanya sanggup mengalihkan pandangannya ketepi jalan yang sepi itu. Tangannya terkepal seolah mencari kekuatan untuk dapat berbicara.
"gak ada keharusan, buat aku menjawab pesan kamu kn!"
"dan,, kalo cm ini yg mw km tanyakn, lebih baik kita gabung lg sm tmen2 di dlm" ucap gina dingin...
saat Gina akan pergi, Sapto menarik tangan
Gina.
"siapa... Siapa orang yg nganter km td?" kalimat Sapto ini mengejutkan Gina, bukan hanya itu, tangan Sapto yg dulu terasa hangat tiap kali menyentuhnya, kali ini berbeda. Dingin, sangat dingin. Gina yang ingin terus menghindar nyatanya tidak bisa. Gina diam untuk beberapa saat, bibirnya gemetar tak sanggup untuk menjelaskan, matanya terus mencari sesuatu yang tidak ada.
"jawab gin..." lirih Sapto
"Tunangan.. Dia tunanganku"
Genggaman tanggan Sapto pun mengendur, sampai akhirnya terlepas. Tergambar kekecewaan yang sangat diwajah Sapto. Sapto kemudian berjalan menghampiri teman-temannya didalam dan meninggalkan Gina tanpa berbicara sepatah kata apapun setelah mendengar apa yang Gina ucapkan.
Melihat punggung Sapto yang semakin hilang dari pandangannya,air mata Gina hampir terjatuh, tapi dia berhasil mengatasinya.
"siapa... Siapa orang yg nganter km td?" kalimat Sapto ini mengejutkan Gina, bukan hanya itu, tangan Sapto yg dulu terasa hangat tiap kali menyentuhnya, kali ini berbeda. Dingin, sangat dingin. Gina yang ingin terus menghindar nyatanya tidak bisa. Gina diam untuk beberapa saat, bibirnya gemetar tak sanggup untuk menjelaskan, matanya terus mencari sesuatu yang tidak ada.
"jawab gin..." lirih Sapto
"Tunangan.. Dia tunanganku"
Genggaman tanggan Sapto pun mengendur, sampai akhirnya terlepas. Tergambar kekecewaan yang sangat diwajah Sapto. Sapto kemudian berjalan menghampiri teman-temannya didalam dan meninggalkan Gina tanpa berbicara sepatah kata apapun setelah mendengar apa yang Gina ucapkan.
Melihat punggung Sapto yang semakin hilang dari pandangannya,air mata Gina hampir terjatuh, tapi dia berhasil mengatasinya.
Acara pada malam itu berjalan lancar. Semua
senang, kecuali Sapto tentunya.
Saat semua berpamitan pulang, bu hasni meminta Sapto dan beberapa orang yang lain untuk tetap tinggal.
Annas, Bagus dan Dian tetap tinggal bersama Sapto malam itu.
"lebih baik nangis di sini dari pada dirumah" ucap bu hasni lembut dengan gurauannya yg khas.
Sapto hanya bisa menekuk kepalanya dalam-dalam. Tidak merespon apa-apa yang dikatakan teman-temannya termasuk bu hasni.
"setiap awal pasti ada akhirnya, begitupun sebuah hubungan pasti akan berakhr juga" lirih bu hasni, berusaha menasehati anak didiknya sewaktu di SMA itu yang kini sudah menjadi Mahasiswa Fisika semester 5 di UPI
Sapto hanya mengangguk, dan akhirnya tersenyum tipis walaupun terpaksa.
Annas, Bagus, Dian bahkan sudah tau prihal pertunangan Gina, tapi tak tepat rasanya jika Sapto tau mengenai hal ini dari mereka.
Saat semua berpamitan pulang, bu hasni meminta Sapto dan beberapa orang yang lain untuk tetap tinggal.
Annas, Bagus dan Dian tetap tinggal bersama Sapto malam itu.
"lebih baik nangis di sini dari pada dirumah" ucap bu hasni lembut dengan gurauannya yg khas.
Sapto hanya bisa menekuk kepalanya dalam-dalam. Tidak merespon apa-apa yang dikatakan teman-temannya termasuk bu hasni.
"setiap awal pasti ada akhirnya, begitupun sebuah hubungan pasti akan berakhr juga" lirih bu hasni, berusaha menasehati anak didiknya sewaktu di SMA itu yang kini sudah menjadi Mahasiswa Fisika semester 5 di UPI
Sapto hanya mengangguk, dan akhirnya tersenyum tipis walaupun terpaksa.
Annas, Bagus, Dian bahkan sudah tau prihal pertunangan Gina, tapi tak tepat rasanya jika Sapto tau mengenai hal ini dari mereka.
Bip...
Bip...Bip...
Bunyi pesan dari handphone sapto terus berdatangan
From: MeLLon
-totoooo-
From: MeLLon
-tomato woy-
From: MeLLon
-sial, gak dibales juga. Dasar manusia tomat!-
Sapto pun menahan tawanya setelah membaca pesan terakhir dari teman yang dinamainya "MeLLon" itu.
Kembali Sapto merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Menatap kosong langit-langit kamarnya. Sesekali dia melihat laci meja yang berada tepat disamping tempat tidur.
Dibukanya laci itu, dan mengambil lipatan kertas lusuh yang ada didalamnya. Dibacanya dengan seksama.
Fikirannya pun seolah memflasback kejadian ditanggal yang tercatat pada surat itu.
28 september 2008
Bip...Bip...
Bunyi pesan dari handphone sapto terus berdatangan
From: MeLLon
-totoooo-
From: MeLLon
-tomato woy-
From: MeLLon
-sial, gak dibales juga. Dasar manusia tomat!-
Sapto pun menahan tawanya setelah membaca pesan terakhir dari teman yang dinamainya "MeLLon" itu.
Kembali Sapto merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Menatap kosong langit-langit kamarnya. Sesekali dia melihat laci meja yang berada tepat disamping tempat tidur.
Dibukanya laci itu, dan mengambil lipatan kertas lusuh yang ada didalamnya. Dibacanya dengan seksama.
Fikirannya pun seolah memflasback kejadian ditanggal yang tercatat pada surat itu.
28 september 2008
Siang itu senyum Gina terus tergambar diwajahnya.
Walau Matanya terus mengawasi pintu kelas XI IPA 3.
"Bu Attin, jus stroberi sama jus jeruknya 1 ia" sahut Gina kepada ibu penjual dikantin itu. Yang ditunggupun akhirnya datang. Senyuman yang terus tergambar diwajah Gina membuat sedikit kebingungan Sapto. Tanpa
banyak bicara Sapto langsung meminum jus stroberi yang sudah Gina pesan.
"waah, seger banget jus stroberiiinya. Buat otak ku jd adem lagi... Makasi ia sayang kuu... Hehe" Tangan Sapto mulai bergentayangan jail dikepala Gina. Gina hanya tersenyum, betapa dia menyukai saat tangan hangat Sapto menyentuh kepalanya.
"ini baca"
"apaan ini" Sapto kebingungan.
"hmmm... kamu pasti lupa..." Lirih Gina kecewa, wajah Gina ditekuk, matanya mulai mendung sambil memperhatikan jus yang sedang dia aduk-aduk dengan sedotan. Mengetahui itu, Sapto langsung cepat-cepat membuka Lipatan kertas yang Gina berikan.
*Happy Anniversary 1st*
"Bu Attin, jus stroberi sama jus jeruknya 1 ia" sahut Gina kepada ibu penjual dikantin itu. Yang ditunggupun akhirnya datang. Senyuman yang terus tergambar diwajah Gina membuat sedikit kebingungan Sapto. Tanpa
banyak bicara Sapto langsung meminum jus stroberi yang sudah Gina pesan.
"waah, seger banget jus stroberiiinya. Buat otak ku jd adem lagi... Makasi ia sayang kuu... Hehe" Tangan Sapto mulai bergentayangan jail dikepala Gina. Gina hanya tersenyum, betapa dia menyukai saat tangan hangat Sapto menyentuh kepalanya.
"ini baca"
"apaan ini" Sapto kebingungan.
"hmmm... kamu pasti lupa..." Lirih Gina kecewa, wajah Gina ditekuk, matanya mulai mendung sambil memperhatikan jus yang sedang dia aduk-aduk dengan sedotan. Mengetahui itu, Sapto langsung cepat-cepat membuka Lipatan kertas yang Gina berikan.
*Happy Anniversary 1st*
Tangannya meremas kertas lusuh itu, melemparnya
jauh kesudut kamar. Kedua tangannya menutupi wajah, hampir saja air mata itu
keluar, dengan cepat Sapto menyeka dengan ke2 tangannya. Tiba-tiba hari ini
waktu berjalan begitu lambat, dan sakit yang dirasakan Sapto semakin kuat.
Gina, adalah teman semasa SMA sekaligus mantan terlama yang pernah Sapto pacari. 3 tahun. Waktu yang cukup lama untuk mengenal seorang Gina bagi Sapto. Walau disemasa pacaran dulu Sapto dan Gina lebih sering marahan karna hal-hal kecil ketimbang baikannya. Tapi tetap saja, Gina paling berbeda diantara yang lain.
Sapto selalu berfikir, bahwa itu adalah pembelajaran untuk diperbaiki dikemudian hari. Tapi kenyataan pahit yang harus dihadapi saat ini, bahwa... kesemptan untuk memperbaiki itu semua tidak ada.
Gina sudah bertunangan dengan orang lain.
Gina, adalah teman semasa SMA sekaligus mantan terlama yang pernah Sapto pacari. 3 tahun. Waktu yang cukup lama untuk mengenal seorang Gina bagi Sapto. Walau disemasa pacaran dulu Sapto dan Gina lebih sering marahan karna hal-hal kecil ketimbang baikannya. Tapi tetap saja, Gina paling berbeda diantara yang lain.
Sapto selalu berfikir, bahwa itu adalah pembelajaran untuk diperbaiki dikemudian hari. Tapi kenyataan pahit yang harus dihadapi saat ini, bahwa... kesemptan untuk memperbaiki itu semua tidak ada.
Gina sudah bertunangan dengan orang lain.
"nik... NIKKIIIITAAA..." teriak ibu
didapur.
"iaa....." suara langkah niki menuruni tangga pun bergema, betapa dia tidak menyadari berat badannya telah naik 5kg saat bulan puasa kemarin, membut Nabila adiknya gusar, karna ke gaduhan kakaknya.
"ITAAA, Lo gak nyadar body ia! Berisik tau" omel Nabila adik Nikita.
Sebelum menuju dapur tempat ibu memanggil, Nikita menghampiri adiknya.
"apa sii, Ita. Ita. Nama bagus-bagus Nikita, dipanggil Ita" Nikita mengambil makanan yang ada ditangan adiknya itu, sambil kemudian menjulurkan lidah dan berjalan menuju dapur.
Pasca Hari raya idulfitri beberapa waktu lalu, Ibu dan Nikita tampak sibuk didapur. Sanak saudara silih bergantian datang kerumah mereka.
"siapa lg si bu yang bkalan dateng?" tanya Niki heran.
"itu, paman Wahid adik ayah yang dari Garut"
Niki menganggukan kepalanya.
Nasi Liwet, asin dan Lalapan sambal siap disajikan dimeja makan.
Sesekali Nikita memeriksa Handphone nya.
"iikh..." dengan kesal kembali niki mengantongi handphone dalam saku celananya.
"iaa....." suara langkah niki menuruni tangga pun bergema, betapa dia tidak menyadari berat badannya telah naik 5kg saat bulan puasa kemarin, membut Nabila adiknya gusar, karna ke gaduhan kakaknya.
"ITAAA, Lo gak nyadar body ia! Berisik tau" omel Nabila adik Nikita.
Sebelum menuju dapur tempat ibu memanggil, Nikita menghampiri adiknya.
"apa sii, Ita. Ita. Nama bagus-bagus Nikita, dipanggil Ita" Nikita mengambil makanan yang ada ditangan adiknya itu, sambil kemudian menjulurkan lidah dan berjalan menuju dapur.
Pasca Hari raya idulfitri beberapa waktu lalu, Ibu dan Nikita tampak sibuk didapur. Sanak saudara silih bergantian datang kerumah mereka.
"siapa lg si bu yang bkalan dateng?" tanya Niki heran.
"itu, paman Wahid adik ayah yang dari Garut"
Niki menganggukan kepalanya.
Nasi Liwet, asin dan Lalapan sambal siap disajikan dimeja makan.
Sesekali Nikita memeriksa Handphone nya.
"iikh..." dengan kesal kembali niki mengantongi handphone dalam saku celananya.
Tangan Bila, sapa akrab Nabila adik Niki.
Dengan Liar mengutak-atik Laptop milik kakaknya itu. Dibukanya satu persatu
folder yang ada didalamnya. Sampai akhirnya berhenti di folder "Aku dan
Dia" dilihatnya foto-foto itu satu persatu.
"ka... Kabar Mas Bagus gimana, dah Lama gue gak denger lo ngomongin soal mas Bagus ke ibu?" tanya Bila polos.
Niki yang ditanya sibuk membulak-balik Majalah Korea kesukaannya. Tanda malas menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan Bagus.
"Lo putus ia ka?" tebak Bila so tau.
Niki beranjak dari tempat tidurnya dan memukul adiknya itu dengan majalah yang ada ditangannya.
"anak kecil jangan so tau deh ! " ujar Niki sambil meninggalkan kamarnya.
"yee..." ketus Bila.
Niki, duduk termenung di teras depan rumahnya. Matanya mengamati kearah pohon magga milik ibunya. Mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada sama sekali. Kembali dia melihat handphone nya.
"hmmm..."
Dengan kesal niki menjauhkan handphone darinya.
"1 minggu lagi" lirih niki yang kemudian menekukan kepalanya.
"ka... Kabar Mas Bagus gimana, dah Lama gue gak denger lo ngomongin soal mas Bagus ke ibu?" tanya Bila polos.
Niki yang ditanya sibuk membulak-balik Majalah Korea kesukaannya. Tanda malas menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan Bagus.
"Lo putus ia ka?" tebak Bila so tau.
Niki beranjak dari tempat tidurnya dan memukul adiknya itu dengan majalah yang ada ditangannya.
"anak kecil jangan so tau deh ! " ujar Niki sambil meninggalkan kamarnya.
"yee..." ketus Bila.
Niki, duduk termenung di teras depan rumahnya. Matanya mengamati kearah pohon magga milik ibunya. Mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada sama sekali. Kembali dia melihat handphone nya.
"hmmm..."
Dengan kesal niki menjauhkan handphone darinya.
"1 minggu lagi" lirih niki yang kemudian menekukan kepalanya.
Sapto melirik kearah jam weker yang ada dimeja
belajarnya.
"baru jam8... Mending tidur Lagi deh"
Selimut yang terjatuh, akhirnya ditarik kembali dan Sapto pun melanjutkan tidurnya.
Bip...
Bip...
Bip...
Suara tanda pesan masuk terus berdatangan di handpone Sapto.
Niki dan ibunya baru saja berbelanja keperluan yang akan Niki bawa ke Jogja minggu depan.
"Nik, mampir dulu ke rumah bu Tuti ia, kita silaturahmi" sahut ibu yang berjalan menuju rumah bercat hijau itu. Tanpa menjawab Niki mengikuti langkah ibunya.
Niki mencuri pandangan kedalam rumah itu berharap melihat seseorang, tapi tampaknya tidak ada orang sama sekali.
Tidak Lama kemudian Niki dan Ibunya sampai dirumah.
"km, mau dibuatkan apa nik untuk dibawa ke Jogja" tanya ibu
Niki yang asik membereskan belanjaannya hanya menggumam. Berfikir. Ingin dimasakan apa oleh ibu.
"nanti aja bu, masi lama kok"
Liburan semester Niki akan berakhir sebentar Lagi. Dan dia harus kembali ke Jogja.
Nikita, adalah seorang Mahasiswi TI semester 3 di UIN Jogja.
"baru jam8... Mending tidur Lagi deh"
Selimut yang terjatuh, akhirnya ditarik kembali dan Sapto pun melanjutkan tidurnya.
Bip...
Bip...
Bip...
Suara tanda pesan masuk terus berdatangan di handpone Sapto.
Niki dan ibunya baru saja berbelanja keperluan yang akan Niki bawa ke Jogja minggu depan.
"Nik, mampir dulu ke rumah bu Tuti ia, kita silaturahmi" sahut ibu yang berjalan menuju rumah bercat hijau itu. Tanpa menjawab Niki mengikuti langkah ibunya.
Niki mencuri pandangan kedalam rumah itu berharap melihat seseorang, tapi tampaknya tidak ada orang sama sekali.
Tidak Lama kemudian Niki dan Ibunya sampai dirumah.
"km, mau dibuatkan apa nik untuk dibawa ke Jogja" tanya ibu
Niki yang asik membereskan belanjaannya hanya menggumam. Berfikir. Ingin dimasakan apa oleh ibu.
"nanti aja bu, masi lama kok"
Liburan semester Niki akan berakhir sebentar Lagi. Dan dia harus kembali ke Jogja.
Nikita, adalah seorang Mahasiswi TI semester 3 di UIN Jogja.
" ka sapto banguun " terdengar suara
tiga anak kecil membangunkan Sapto, sambil terus menggerakkan tubuh Sapto ke
kanan dan ke kiri. Yang di bangunkan tak kunjung sadar juga. Sampai salah 1
dari ketiga anak kecil itu mencabut bulu kaki Sapto yang Lebat. Dan cepat-cepat
melarikan diri ke luar kamar Sapto.
"AWW..." Spontan Sapto langsung terbangun dan mengaduh kesakitan. 2anak kecil yang melihat OM nya yang kesakitan itu tertawa dengan lepas.
"sana..sana ah" Sapto mengusir keponakannya itu dari kamarnya.
"wow udah jam 12" Sapto kembali merebahkan tubuhnya. Tangannya memainkan handphone. Ada 8 pesan. Dan semua dari "MeLLon"
From: MeLLon
-toto-
From: MeLLon
-toto hey-
From: MeLLon
-bales dong!-
From: MeLLon
-Gue dirumah Lo ni, sama nyokap-
From: MeLLon
-pasti masi tidur. Dasar kebo -,-
From: MeLLon
-Sial! Gak ngebales juga-
From: MeLLon
-Minggu Gue cabut lg ke jogja-
From: MeLLon
-DASAR MANUSIA TOMAT!-
Sapto hanya tertawa melihat pesan yg dikirim temannya ini. Dan mengetikan sebuah pesan balasan
"AWW..." Spontan Sapto langsung terbangun dan mengaduh kesakitan. 2anak kecil yang melihat OM nya yang kesakitan itu tertawa dengan lepas.
"sana..sana ah" Sapto mengusir keponakannya itu dari kamarnya.
"wow udah jam 12" Sapto kembali merebahkan tubuhnya. Tangannya memainkan handphone. Ada 8 pesan. Dan semua dari "MeLLon"
From: MeLLon
-toto-
From: MeLLon
-toto hey-
From: MeLLon
-bales dong!-
From: MeLLon
-Gue dirumah Lo ni, sama nyokap-
From: MeLLon
-pasti masi tidur. Dasar kebo -,-
From: MeLLon
-Sial! Gak ngebales juga-
From: MeLLon
-Minggu Gue cabut lg ke jogja-
From: MeLLon
-DASAR MANUSIA TOMAT!-
Sapto hanya tertawa melihat pesan yg dikirim temannya ini. Dan mengetikan sebuah pesan balasan
-ketemu ayo. Gue tunggu jam3. Di WS ia-
Tidak dlm hitungan menit, pesan pun langsung brbalas.
From: MeLLon
-okeh :D -
Sapto, mulai berfikir memutar otaknya. Tidak baik terus memikirkan Gina. Apalagi setelah mengetahui status Gina sekarang. Saptopun bersiap untuk pergi bertemu "MeLLon"
Jarak WS (Waroeng Steak) dengan rumah Sapto tidak begitu jauh. Karna Lokasinya yang dekat Saptopun berjalan kaki. Tepat jam3 Sapto sudah ada ditempat. Duduk dikursi yang bersebelahan dengan jendela yang langsung menghadap jalan raya. Taklama, yang ditunggupun datang.
Tangan Sapto melambai-lambai ke arah Niki yang tampak kebingungan mencari dirinya.
"Lama!" ujar Sapto.
Melihat Niki yang tampak kecapekan itu Sapto tersenyum dan berkata "Lo jalan cepet ia kesini" Sapto terkekeh-kekeh.
Niki yang sibuk memposisikan duduknya agar PW (Posisi Wenak) memasang muka jutek.
"Sial lo. Gue Buru2 tau kesini, gue lg bantuin ibu pas lo sms" sahut Niki cepat.
2orang yg sudah lama tdk brtemu saling mlepas rindu. Bukan 2teman. Tapi 2sahabat.
Tidak dlm hitungan menit, pesan pun langsung brbalas.
From: MeLLon
-okeh :D -
Sapto, mulai berfikir memutar otaknya. Tidak baik terus memikirkan Gina. Apalagi setelah mengetahui status Gina sekarang. Saptopun bersiap untuk pergi bertemu "MeLLon"
Jarak WS (Waroeng Steak) dengan rumah Sapto tidak begitu jauh. Karna Lokasinya yang dekat Saptopun berjalan kaki. Tepat jam3 Sapto sudah ada ditempat. Duduk dikursi yang bersebelahan dengan jendela yang langsung menghadap jalan raya. Taklama, yang ditunggupun datang.
Tangan Sapto melambai-lambai ke arah Niki yang tampak kebingungan mencari dirinya.
"Lama!" ujar Sapto.
Melihat Niki yang tampak kecapekan itu Sapto tersenyum dan berkata "Lo jalan cepet ia kesini" Sapto terkekeh-kekeh.
Niki yang sibuk memposisikan duduknya agar PW (Posisi Wenak) memasang muka jutek.
"Sial lo. Gue Buru2 tau kesini, gue lg bantuin ibu pas lo sms" sahut Niki cepat.
2orang yg sudah lama tdk brtemu saling mlepas rindu. Bukan 2teman. Tapi 2sahabat.
Niki terus memperhatikan Sapto. Posisi duduk yang
saling berhadapan itu memudahkan Niki untuk melihat wajah Sapto. Sapto yang
diperhatikan terus bercerita semua hal tentangnya. Termasuk soal Gina. Niki
yang setia mendengarkan hanya mengangguk-angguk.
"Gue, kaget tau pas Gina dianter cwo itu. Hmmm" curhat Sapto
"yakin, itu tunangannya? Siapa tau dia boong" Balas Niki polos, sambil melahap potongan steak yang dia pesan.
"Gina itu gak pernah boong"
Melihat ekspresi wajah Sapto seperti itu, Niki tau Sapto sangat kecewa dan sakit hati. Walaupun Sapto memaksakan tertawa. Tetap saja. Diwajahnya tertulis "LUKA"
Kemudian Niki mengalihkan pandangannya kesudut jalan.
Tangan Sapto mulai jail. Pipi Niki yang lebih terlihat seperti bakpau itu. Sapto colek-colek.
"malah ngelamun" ejek Sapto. Tawa Sapto pun membeludak melihat ekspresi sahabatnya itu.
"ahahaha. Dah kaya mayat idup aja lo nik"
Perasaan Sapto sedikit Lebih baik berkat Niki. Dipandangnya lekat-lekat sahabatnya yang sedang asik makan itu. Dan Sapto tersenyum.
"Gue, kaget tau pas Gina dianter cwo itu. Hmmm" curhat Sapto
"yakin, itu tunangannya? Siapa tau dia boong" Balas Niki polos, sambil melahap potongan steak yang dia pesan.
"Gina itu gak pernah boong"
Melihat ekspresi wajah Sapto seperti itu, Niki tau Sapto sangat kecewa dan sakit hati. Walaupun Sapto memaksakan tertawa. Tetap saja. Diwajahnya tertulis "LUKA"
Kemudian Niki mengalihkan pandangannya kesudut jalan.
Tangan Sapto mulai jail. Pipi Niki yang lebih terlihat seperti bakpau itu. Sapto colek-colek.
"malah ngelamun" ejek Sapto. Tawa Sapto pun membeludak melihat ekspresi sahabatnya itu.
"ahahaha. Dah kaya mayat idup aja lo nik"
Perasaan Sapto sedikit Lebih baik berkat Niki. Dipandangnya lekat-lekat sahabatnya yang sedang asik makan itu. Dan Sapto tersenyum.
Bagi Sapto, Niki itu anak bodoh yang selalu
menjelma menjadi orang dewasa. Sikap acuhnya selalu berbanding terbalik dengan
kepeduliannya. Selalu bilang "NGGAK" Padahal "IYA"
Hal yang paling Sapto sukai dari Niki, yaitu ketika Niki terus menerus tiada hentinya mengirimkan pesan kepadanya.
Pernah suatu hari Niki mengirimkan 30pesan yang isinya sama semua. Hanya waktunya yang berbeda.
-tototomato-
Begitulah isi pesan Niki.
Mengingat semua tingkah konyol dan manja Niki, Sapto tertawa sendiri dikamarnya.
Mendengar Niki akan kembali ke Jogja Minggu nanti, Sapto menggumam sendiri.
"kenapa si harus Jogja"
Sejak awal Sapto tau, Niki lolos SNAMPTN ke UIN Jogja. Sapto tidak suka. Karna tau mereka akan jarang untuk bertemu. Mengingat Sapto pun memilih UPI sebagai tempt ia kuliah karna dia tau kondisi badannya tidak terlalu mendukung untuk dia kuliah di luar Bandung.
Sapto selalu ingat. Niki yg slalu menginginkan gelas S.Si terpampang di nama belakangnya. Tapi Saptolah yang akan menyandang gelar itu. Bukan Niki.
Hal yang paling Sapto sukai dari Niki, yaitu ketika Niki terus menerus tiada hentinya mengirimkan pesan kepadanya.
Pernah suatu hari Niki mengirimkan 30pesan yang isinya sama semua. Hanya waktunya yang berbeda.
-tototomato-
Begitulah isi pesan Niki.
Mengingat semua tingkah konyol dan manja Niki, Sapto tertawa sendiri dikamarnya.
Mendengar Niki akan kembali ke Jogja Minggu nanti, Sapto menggumam sendiri.
"kenapa si harus Jogja"
Sejak awal Sapto tau, Niki lolos SNAMPTN ke UIN Jogja. Sapto tidak suka. Karna tau mereka akan jarang untuk bertemu. Mengingat Sapto pun memilih UPI sebagai tempt ia kuliah karna dia tau kondisi badannya tidak terlalu mendukung untuk dia kuliah di luar Bandung.
Sapto selalu ingat. Niki yg slalu menginginkan gelas S.Si terpampang di nama belakangnya. Tapi Saptolah yang akan menyandang gelar itu. Bukan Niki.
Ingatan Sapto langsung tertuju pada ucapan Niki
saat itu
"ih ih sebel ih, yang pengen jadi Sarjana Sains kan gue, kenapa jadi lo si to"
"gue juga heran, malah, gue yang pengen dapet gelar S.T malah Lo ia" jawab Sapto sambil menggaruk-garuk kepalanya kebingungan. "yaudahlah,kita kan masi tetep bisa berkolaborasi. Hehe" hibur Sapto.
Sapto terus memflashback ingatan tentang sahabatnya itu. Pertama bertemu Niki yang menggunakan celana pendek dan kaos oblong. Sampai akhirnya bermetamorfosis. Niki yang sekarang mengenakan hijab menjelma menjadi wanita yang cantik.
Sempat hati Sapto tertarik karna melihat perubahan itu. Tapi tetap saja. Niki adalah Niki si MeLLon.
Buat Sapto saat ini, Niki tetap anak bodoh yang menjelma menjadi dewasa.
"ih ih sebel ih, yang pengen jadi Sarjana Sains kan gue, kenapa jadi lo si to"
"gue juga heran, malah, gue yang pengen dapet gelar S.T malah Lo ia" jawab Sapto sambil menggaruk-garuk kepalanya kebingungan. "yaudahlah,kita kan masi tetep bisa berkolaborasi. Hehe" hibur Sapto.
Sapto terus memflashback ingatan tentang sahabatnya itu. Pertama bertemu Niki yang menggunakan celana pendek dan kaos oblong. Sampai akhirnya bermetamorfosis. Niki yang sekarang mengenakan hijab menjelma menjadi wanita yang cantik.
Sempat hati Sapto tertarik karna melihat perubahan itu. Tapi tetap saja. Niki adalah Niki si MeLLon.
Buat Sapto saat ini, Niki tetap anak bodoh yang menjelma menjadi dewasa.
Gina memperhatikan Shipa yang sedang asik
chatting dengan teman-teman dijejaring sosial dikomputer kesayangannya.
Kemudian tiba-tiba memicingkan matanya ke arah friends list chatt Shipa.
"Sapto..." ucapnya dalam hati. Seperti dapat membaca apa yang difikirkan Gina. Shipa mencoba membuka halaman tentang Sapto.
"Jangan dibuka!" sahut Gina cepat sambil menutup muka dengan ke2 tangannya. Shipa spontan mengcancel halaman yang hampir terbuka tersebut.
"yakin, km gak mau Liat gin" tanya Shipa lembut.
"nggak perlu pa, baiknya aku gak perlu tau lg soal dia, aku harus kuat, bagaimanapun aku harus ngelupain dia, aku harus menghargai keberadaan Indra yang sekarang bersama ku"
Shipa menepuk pundak temannya itu, mencoba memberikan semangat. Bahwa keputusan Gina itu memang baik untuk dirinya.
"aku salut sama kamu Gin"
Raut wajah Gina yang semula tenggelam dalam kesedihan melukiskan sedikit senyuman berkat Shipa.
Kemudian tiba-tiba memicingkan matanya ke arah friends list chatt Shipa.
"Sapto..." ucapnya dalam hati. Seperti dapat membaca apa yang difikirkan Gina. Shipa mencoba membuka halaman tentang Sapto.
"Jangan dibuka!" sahut Gina cepat sambil menutup muka dengan ke2 tangannya. Shipa spontan mengcancel halaman yang hampir terbuka tersebut.
"yakin, km gak mau Liat gin" tanya Shipa lembut.
"nggak perlu pa, baiknya aku gak perlu tau lg soal dia, aku harus kuat, bagaimanapun aku harus ngelupain dia, aku harus menghargai keberadaan Indra yang sekarang bersama ku"
Shipa menepuk pundak temannya itu, mencoba memberikan semangat. Bahwa keputusan Gina itu memang baik untuk dirinya.
"aku salut sama kamu Gin"
Raut wajah Gina yang semula tenggelam dalam kesedihan melukiskan sedikit senyuman berkat Shipa.
"Nik, kapan kau ke jogja kah?" suara
khas Delia disebrang sana dengan logat Makassarnya.
"aku minggu del, kau kapan kah" tanya niki, diapitnya telepone diantara pipi dan bahu sambil terus membantu ibu mengupas buah mangga. Untuk dibuat manisan dan akan Niki bawa sebagai oleh-oleh untuk teman-temannya disana.
"ya, mungkin senin. Aku ambil keberangkatan tiket hari senin nik"
"oh, ya sudah. Jangan lupa bawa oleh-oleh makassar ia" pinta niki sambil tertawa.
"siap"
Pembicaraanpun berakhir.
Niki selalu bercerita kepada Ibu. Bahwa dia beruntung kuliah di Jogja, karna teman-teman yang dia dapat berasal hampir dari luar pulau Jawa.
Seperti Delia dari Makassar, Zety dari Manokwari dan Cut Wulan dari Aceh. Setiap akhir Liburan mereka semua selalu menukar makanan khas dari daerah masing-masing.
Saat Niki asik bercerita. Tiba-tiba handphone nya berbunyi. Ada 1 pesan.
From: Mas Bagus
-De, kapan km ke Jogja? Mau mas jemput?-
Niki hanya menghela nafas panjang setelah membacanya.
"aku minggu del, kau kapan kah" tanya niki, diapitnya telepone diantara pipi dan bahu sambil terus membantu ibu mengupas buah mangga. Untuk dibuat manisan dan akan Niki bawa sebagai oleh-oleh untuk teman-temannya disana.
"ya, mungkin senin. Aku ambil keberangkatan tiket hari senin nik"
"oh, ya sudah. Jangan lupa bawa oleh-oleh makassar ia" pinta niki sambil tertawa.
"siap"
Pembicaraanpun berakhir.
Niki selalu bercerita kepada Ibu. Bahwa dia beruntung kuliah di Jogja, karna teman-teman yang dia dapat berasal hampir dari luar pulau Jawa.
Seperti Delia dari Makassar, Zety dari Manokwari dan Cut Wulan dari Aceh. Setiap akhir Liburan mereka semua selalu menukar makanan khas dari daerah masing-masing.
Saat Niki asik bercerita. Tiba-tiba handphone nya berbunyi. Ada 1 pesan.
From: Mas Bagus
-De, kapan km ke Jogja? Mau mas jemput?-
Niki hanya menghela nafas panjang setelah membacanya.
-TBC-
Tunggu kisah
selanjutnya yya ^^
penulisnya belum
dapet inspirasi lagi.. hehehe..
Gue nggak ada tampang makassar oyyyy!! Hemehhhh -"-
BalasHapusadaa.. tampang coto makasar hahaha *laper* -__-
Hapuslanjutkan.... (y)
BalasHapuswaahhh ada mas baguss.. hahahaha XD *plak*
Hapusdelia ganti jadi asal manokwari aja hehehe :D
BalasHapusasal irian jaya juga cocok dia mah.. hihihi ^^ (^-^)-v peace delya
Hapusasa teu kudu di publish deh aku gak ada inspirasi laginya -_-
BalasHapusayooo kaka tumbuhkan imajinasimu yang membahana (?) (^-^)9
Hapus